Morphology adalah salah satu mata kuliah gue di semester 3 ini. jadi, didalemmorphology ini kita akan menguak abis asal muasal dari structure kata berasal. Awalnya rada ngejelimet dapet mata kuliah ini, soalny apas semester 1 serada masih bingung waktu dikasih mata kuliah Introduction to linguistic karena di dalam bukunya pun ga menguak jelas apa isi materinya melainkan hanya sebagian kecil dan hanya bagian-bagian terpentingnya saja yang terdapat di buku tersebut, jadi gue yang baru jadi mahasiswa baru, saat semester 2 lalu sempet bingung dan belum mengerti sepenuhnya. tapi sekarang alhamdulilah sudah jelas, bersyukur dapet dosen yang seperti beliau. Dia bernama Mr. David. Salah satu ciri khas beliau adalah, perawakan yang kurus tinggi, badannya terlihat slim lah yah dan salah satu ciri-ciri yang sangat khas dari dirinya adalah belahan rambutnya yang wow. Jadi dia itu punya belahan rambut yang memikat sebagian besar mahasiswanya hingga sering jadi bahan cadaan kita semua. Terlebih kalo suatu hari belahan rambut beliau berpindah posisi menjadi kesamping karena sebenarnya posisi belahan rambut beliau berada di tengah. haha sungguh sangat karismatik dosen gue yang satu ini.
Disini gue akan menguak serta mengobrak-abrik sebagian kecil yang ada di materi morphology selama semester 3 ini. Struktur pembentukan kata, frasa,
klausa, kalimat, dan kroni-kroninya, mempermainkannya seperti seorang
matematikawan berlevel genius asyik berkutat dengan angka-angka.
Gue senang banget mengutak-atik struktur kata baik dalam
bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris.Tiap kali menemukan, teringat, atau
tertarik pada suatu kata, segera gue bongkar kata tersebut sampai menemukan
root-nya. Tak sampai di situ, gue jelajahi lagi, gue cari tahu kelas katanya, dan
mencoba mengombinasikannya dengan imbuhan-imbuhan sehingga membentuk kelas kata
yang lain. Kemudian gue bongkar-pasang imbuhannya dengan hanya memberikan awalan saja,
lalu mengembalikan ke dalam bentuk dasarnya dan diberi akhiran saja, kemudian diberi kedua-duanya, dan mencari tambahan imbalan lain jika masih mungkin. Gue lakukan hal ini baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Saat itu sebuah kata muncul ke permukaan pikiran gue,
"nasional". Gue pikirkan tentang asal mula kata tersebut.
"Nasional" merupakan kata serapan dari bahasa Inggris, national. Gue meyakini, biasanya kata-kata dalam bahasa Inggris yang
diakhiri dengan bunyi al adalah kata sifat. Suara al tersebut gue yakini adalah
sebuah akhiran (-al) yang berfungsi membentuk kata sifat. Sebelum menjadi kata
sifat, tentu kata tersebut bukanlah kata sifat. Gue coba menghilangkan akhiran-al
dalam kata tersebut, sehingga hanya menjadi nation. Nation berarti bangsa.
Benar dugaan gue. Kata nation tersebut memiliki kelas kata benda (nomina), atau
dalam bahasa Inggris kita menyebutnya noun.
Berarti rumusnya: nation (noun) + (-al) = national (adj)
Lihat lagi: profession (noun) + (-al) = professional (adj)
Colony (noun) + (-al) = colonial (adj)
Controversy (noun) + (-al) = controversial (adj)
Berarti, kata national, professional, colonial, controversial,
dan sebagainya merupakan kata sifat yang dibentuk karena mendapat akhiran
(suffix) (-al).
Kata dasar nation bisa diubah-ubah menjadi national,
internasional, nationality, nationalism, dan internationalism. Kata profesi bisa diberi suffix-al sehingga menjadi
professional. Kata tersebut pun bisa dipersingkat menjadi profess (1
menyatakan; 2 mengakui), meskipun artinya tak sama. Profess bisa menjadi kata
professed (terkenal, dikenal), professor (profesor), profesi (profesi). Dari
kata professor yang kelasnya adalah kata benda (noun), kita bisa membentuk kata
sifat, professorial (sebagai profesor, bersifat profesor) dan kata benda
professorship (keprofesoran / jabatan profesor).
Mengasyikkan, bukan? That s an example how I learn English.
Begitulah cara gue belajar bahasa Inggris.Yang gue lakukan hanyalah merenung,
berpikir, dan berpikir lagi. Di mana pun dan kapan pun gue teringat sesuatu
yang terkait dengan bahasa, gue langsung memikirkannya. Di kamar mandi, WC,
kamar tidur, pada waktu makan, saat berada di kampus, pokoknya di mana pun gue berada, kapan pun itu, otak gue pasti gue putar untuk hal itu.
Terkadang gue tergelitik pada sebuah kata yang belum gue ketahui arti dan kelas katanya. Saat itu terjadi, rasanya seperti sastrawan
yang dapat ide tapi terhalang untuk menulis. Rasanya tak enak. Bingung tak
karuan. Gue menemukannya dalam kamus, dan bila tak ada kamus yang gue temukan, gue memilih untuk berpikir sendiri, membuat asumsi sendiri, baru nantinya gue cocokkan dengan kamus. Tapi ketika kata yang gue temukan benar-benar tak dapat dipikir sendiri dan benar-benar membutuhkan kamus, sedangkan tak satu kamus pun
kutemui, ah, tidak .... Rasanya ingin menjerit. Bahkan, efek buruknya, gue jadi
kehilangan ketertarikan pada kata tersebut.


No comments:
Post a Comment